Team Melele
Peristiwa ini baru saja kualami saat malam pergantian tahun 2010/2011 kemarin.
Pada malam tahun baru kemarin aku memang tidak punya rencana apapun untuk merayakannya (maklum udah tua he he he), dan hanya berencana melewatkannya sambil internetan di rumah saja, dikota Jogjaku tercinta.
Kejutan ini bermula saat tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh suara "buzz" dari sebuah Private Message di yahoo messenger-ku. Segera kulihat siapa yang PM aku. Ternyata seorang temanku, sebut saja namanya Ira (bukan nama sebenarnya).
Sebelum kulanjutkan ceritanya, akan ku ceritakan sedikit tentang Ira. Aku mengenal Ira sekitar 2 tahun yang lalu di sebuah gym di kotaku, saat itu aku melihatnya sebagai gadis manis dengan body yang aduhai. Namun sejauh ini hubungan kami hanya sebatas teman baik, kalaupun lebih dari itu, ia hanya menganggapku sebagai kakak karna memang usia kami terpaut jauh, yaitu 14 tahun. Aku berusia 36 tahun, dan Ira 22 tahun. Akhir-akhir ini ia sering berkeluh kesah denganku tentang hubungannya dengan seorang laki-laki yang sudah punya istri dan anak, yang tentu saja hubungan itu ditentang oleh orang tua Ira. Dan ia pun tanpa sungkan lagi menceritakan sudah sejauh apa hubungannya denga lelaki beranak-istri tadi. oke kita sebut saja Rio namanya.
Kembali pada saat Ira PM aku via YM, saat itu dalam hatipun aku sudah yakin ia mau curhat lagi. begini kira-kira dialog di YM-nya;
Ira : Buzz
aku: Yups dek?
Ira : Ga taon baruan mas?
aku: Ga, udah tua he he. Loh kamu ga taun baruan sama Rio?
Ira : Ga, dia ya sama istrinya lah kalo libur gini.
(Sedikit cerita tentang Rio: Seorang karyawan yang cukup mapan yang baru dipindah tugaskan ke Jogja, tetapi istri dan anaknya tetap tinggal di semarang karna si istri bekerja di semarang)
aku: Oh.. yawdah ga usah sedih
Ira : Ga sedih sih cuma ngerasa sendiri dan ditinggalkan aja, Rio pulang ke semarang, temen satu kontrakan malem tahun baruan sama pacarnya.
aku: Yawdah tak temenin sambil chating..
Ira : makasih, mas sibuk ya?
aku: Ga, kenapa?
Ira : Yawdah kesini aja temenin aku, aku pengen curhat lagi.
aku: Iya deh... apa sih yang enggak buat adekku satu ini?

Singkat cerita sampailah aku disana. Aku sedikit terpana melihat penampilan Ira malam itu. Ia mengenakan shortdress atau apalah namanya aku tidak begitu paham. Yang jelas bentuknya semacam daster pendek dari bahan kaos yang menonjolkan keindahan kedua kakinya, lebih tepatnya lagi adalah keindahan dan kemulusan pahanya Aku masuk ke kontrakannya melalui garasi, karna ia menyuruhku untuk memasukkan sepeda motorku ke garasi, "Biar aman" katanya. Dari garasi Ia langsung menuju dapur untuk membuatkan secangkir kopi untukku, dan akupun mengikutinya sambil berbasa-basi sejenak sembari menungguinya membuatkan kopi. Setelah kopiku siap, iapun mengajakku pindah ke ruang TV, dan kamipun ngobrol dengan duduk lesehan diatas karpet. Selama ngobrol, seringkali posisi duduk Ira berubah-ubah dan terkadang menyebabkan kemulusan kedua-pahanya sering tersingkap lebih tinggi lagi. Dan tanpa dapat kutahan, akupun mulai curi-curi pandang memandangi pahanya. Sialnya saat aku keasikan memandangi kemulusan pahanya, ia tersadar dan segera membetulkan posisi duduknya. "Hayo mas liatin apa?" tanyanya. Aku cuma nyengir aja sambil berkata "Sorry". Tapi aku bersyukur ia tidak marah, malahan nada bertanyanya tadi menurutku agak agak menggoda (atau mungkin itu cuma pikiran kotorku aja ya he he). Jujur saat itu aku salah tingkah setengah mati. Untuk segera melepaskan diri dari rasa salah tingkah itu, akupun berusaha kembali fokus pada obrolan kami. "Yawdah lanjut lagi critanya" kataku. "Hmm cerita apalagi ya?" jawabnya sambil bertanya. "Loh tadi katanya mo curhat? kok malah jadi crita ngalor ngidul?" jawabku sambil balik bertanya. Dan tidak kuduga, ternyata pertanyaanku itu membuatnya terdiam, dan tak lama kemudian meluncurlah bulir-bulir air mata membasahi pipinya. "Eh... eh kenapa?" tanyaku bingung. Ira pun makin terisak, sehingga kuputuskan untuk sedikit menenangkannya dengan membelai rambutnya dan posisi dudukku pun berubah dari yang semula dihadapannya menjadi disampingnya. "Yawdah, kalo mau nangis, nangis aja biar lega" kataku. Dan tangis Ira pun makin menjadi sambil merebahkan kepalanya di dadaku, dan akupun mulai memberanikan diri untuk memeluknya. Setelah itu sejuta sedu sedan dan sumpah serapahpun kemudian diceritakannya kepadaku.
Di saat Ira tengah asik menceritakan kekesalannya kepadaku tiba tiba listrik padam. "Wah ngganggu kesenangan orang aja nih" kataku dalam hati. Aku pun melepaskan Ira dari pelukanku karna berniat untuk memeriksa keadaan. "Ini anjlok atau mati semua ya?" tanyaku sambil beranjak ke jendela untuk melihat keadaan di luar, dengan menggunakan penerangan dari senter di Handphone-ku. "Wah mati semua Ra, ada lilin ga?" kataku kepada Ira, "Ga ada mas, tapi ada emergency lamp, cuman kecil jadi ga begitu terang" jawabnya. "Yawdah sukurlah, yang penting ga gelap gulita" kataku lagi. Dan kemudian ia pun beranjak mengambil emergency lamp yang dimaksud. Aku pun kembali ke karpet ruang tv dimana tadi aku meninggalkan Ira. Dan Ira pun sudah selesai menyalakan emergency lamp-nya di ruang tv tersebut. "Wah lama ga ya matinya?" ujarku kepada Ira. "Wah ga tau mas, mas temenin aku dulu ya.. atau mas mau nginep sini juga gapapa" jawabnya. Aku sedikit terperanjat namun bergembira juga mendengarkan jawabannya tersebut, setanpun mulai menari-nari di otakku. "Ya gapapa, aku temenin deh, tapi emang gapapa kalo aku nginep disini?" Tanyaku pada Ira lagi. "Ga pa pa Mas, orang paling nanti pacar temen sekontrakkanku juga nginep sini" Jawabnya. "Tetangga-tetangga ga pa pa?" tanyaku lagi. "Ga, disini orangnya cuek cuek kok mas, malah banyak ga saling kenal, tenang aja" katanya meyakinkan diriku. "Oh gitu" jawabku pendek sambil kembali mengambil posisi duduk di karpet seperti sebelumnya. Dan diluar dugaanku, Ira kali ini justru merebahkan diri di sampingku berbantalkan bantal besar yang ada di ruang tv tersebut. Tentu saja tak kusia siakan kesempatan ini dengan mengikutinya merebahkan diriku juga di sampingnya. Jantungkupun makin berdegup kencang, karna jujur aku masih ragu untuk melakukan "serangan" terhadap Ira. Dikarnakan selama ini hubungan kami sangat-sangat menghormati satu sama lain. Sejenak kami terdiam satu sama lain, sampai Ira memecah keheningan tersebut dengan bertanya "Mas ngantuk ya?" "Gak, yawdah cerita lagilah" jawabku sambil memiringkan badanku menghadap ke arahnya. Ia pun melakukan hal yang sama, sehingga posisi kami saling rebah berhadapan. "Males ah, udah cukup airmataku buat dia" jawabnya. "Yawdah, ga usah dipikirin." jawabku sambil memandangi wajahnya yang tampak makin sensual dalam temaramnya lampu emergency light. "Makasih ya mas" jawabnya sambil tersenyum kepadaku. "Sama-sama" jawabku singkat sambil tersenyum juga kepadanya. Dan lalu entah bagaimana ceritanya kamipun mulai berciuman, mulanya kami hanya berciuman bibir secara lembut, sampai kemudian ia makin mengencangkan pelukkannya. Dan sontak ciumanku yang semula lembut berubah menjadi sangat bernafsu, ditambah lagi ia pun mulai mendesah-desah yang membuatku makin bernafsu saja. Dan tak lama kemudian akupun sudah menelanjangi Ira, dan asik mengeksplor tubuhnya. Aku memang sengaja ingin "menyiksanya" dulu dengan memberikan foreplay yang lama. Baru saja aku mau mulai meberikan oral sex kepada Ira, tiba-tiba Handphone Ira berdering. Ia lalu memeriksa siapa yang menelfon, "Dari kakakku" katanya sembari ia memberikan kode kepadaku untuk diam sejenak. "Halo, Ya ada apa kak?" katanya menjawab panggilan telefon dari kakaknya. "Hah?! Kakak udah di depan?!" "Iya, iya bentar Ira bukain" kata Ira terdengar gugup. Lalu ia dengan gugup pun memberitahukan kepadaku bahwa kakak perempuannya beserta teman kosnya (perempuan juga)" mau numpang nginap di kontrakkan Ira karna pulang terlalu larut sehingga kos-kosannya sudah di Kunci. Parahnya, mungkin karna terlalu asik, aku dan Ira sama sekali tak mendengar waktu suara motor kakaknya datang. Dan sekarang kakaknya sudah sampai di depan kontrakan Ira dan minta dibukakan pintu. "Terus gimana dong?" tanyaku kepada Ira? "Aduh gimana ya?.. ah gini aja, mas ngumpet dulu di dak jemuran yang diatas dapur ya" pintanya dengan nada seperti berharap aku tidak marah. "Ntar kalo Kakakku dah temennya dah tidur, Mas diem-diem pulang aja ya.. jangan Marah ya Mas, please.. " katanya lagi dengan nada yang lebih memelas. "Iya deh gapapa, aku ngerti kok" Jawabku sambil tersenyum untuk menenangkan Ira, meskipun sebetulnya gondok setengah mati dalam hati. Akhirnya aku pun menuju dak jemuran, diantar oleh Ira setelah ia selesai berpakaian kembali. "Udah, mas tunggu disini dulu ya, ntar Ira kesini lagi kalo udah aman, maaf ya mas.." katanya. "Iya" jawabku singkat sambil tetep berusaha tersenyum kepadanya. Kemudian Ira pun meninggalkan aku di tempat persembunyian darurat ini. Antar kesal dan masih tidak percaya atas apa yang barusaja kualami, akupun menunggu. Tak terasa 3 batang rokok pun sudah habis ku hisap sejak aku mulai bersembunyi disini tadi. Tidak lama kemudian Ira kembali menemuiku. "Oke aman mas" katanya separuh berbisik. Aku hanya membalasnya dengan tersenyum kecut. "Ih... mas marah ya? maaf.. nanti deh Ira ganti waktunya, jangan marah ya mas" katanya dengan nada memelas tetapi masih tetap berbisik. "Enggak pa pa, mas maklum kok, belum rejeki kita aja sayang" jawabku. "Makasih Mas" jawabnya tersipu. Dan kemudian akupun meninggalkan Ira setelah menciumnya untuk yang terakhir kali malam itu. Yah itulah kejutan di malam tahun baru kemarin yang kualami, dan kini aku masih menunggu tanggal penggantian kencan kami yang tertunda. Mohon doa dari agan-agan member sawomatang semua, agar cerita ini bisa berlanjut.
Label: edit post
0 Responses

Poskan Komentar